Hijrah Part II Mahasiswa yang Nyantri

Alumni Ma'had Al-Jamiah
Kebiasaan baru, aku harus mengenakan jilbab saat sekolah pilihan itu jujur sangat sulit untuk ku. Panas, ribet ketusuk jarum, tidak cantik ya seperti itulah yang tepikirkan dalam benak ku. Seperti waktu di sekolah menengah pertama aku menjadi siswa yang aktif dalam kegiatan ekstra maupun intra. Di saat itulah aaku memiliki teman baru yang mengubah pergaulan ku.
Rohma, anak seorang guru ngaji yang disegani di kampungnya. Ia adalah salah satu siswa berprestasi di sekolah, selalu menjadi juara umum. Yani, siswa terbaik ke-2 berasal dari keluarga yang sangat harmonis dan baik. Ani, lulusan madrasah tsanawiyah dan menjadi siswa terbaik dari sekolahnya. Mereka begitu keren pintar dan baik itulah yang membuatku berada diantara mereka.
Satu hal yang selalu ku perhatikan dari pertemanan kami, mereka ber-3 selalu konsisten dalam berjilbab. Tidak seperti ku yang masih buka tutup semaunya, tapi waktu lah yag membawaku mengikuti kebiasaan baik mereka itu. Meskipun dengan jilbab seadanya setidaknya aku belajar mempertahankan untuk istiqomah menggunakan jilbab ku.
Kuliah Ta'aruf


Mahasantri
Selesai sudah status ku menjadi siswa dan akhirnya menyandang status mahasiswa. Aku bersyukur diterima oleh salah satu Universitas Islam Negeri di kota ku. Semuanya aku persiapkan dengan matang-matang kecuali satu, tempat tinggal. Hari itu adalah hari pertama daftar ulang dikampus, bapak dengan sabar menganteri demi membayar SPP pertama ku. Sedang asyik mengobrol dengan salah seorang teman datang laki-laki berparas bening,sayangnya aku tak sempat menanyakan namanya.hehe
“ Mbak, udah dapet kosan belum ini kami dari ma’had al-jamiah masih buka pendaftaran untuk mahasantri”, dengan antusias menanyai kami berdua.
“ Oh, asrama ya mas boleh mas saya lihat dulu brosurnya ya,”jawab ku.
Bapak tertarik dengan apa yang ku pegang, sambil menanyakan siapa laki-laki itu. Saat itu juga bapak langsung mengiyakan, aku justru menolak. Mendengar kata mahasantri pastinanati tesnya susah, itulah yang ku pikirkan. Sedangkan aku hanyalah gadis biasa dengan latar belakang tidak ada pendidikan agama, SD,SMP,SMA bebasis sekolah Negeri dan menyadari memampuan berbahas ku pun angat minim. Bapak memaklumi keputusanku dengan diam, itulah yang membuatku takut. Diamnya bapak sampai perjalanan pulang bisa kusimpulkan kalau Ia tak setuju dengan ke inginanku.
Belum sampai 2 km meninggalkan kampus, rem motor ditariknya hampir kami terjatuh.
“Kenapa Pak?”, tanyaku kaget.
“Ayo daftar!!”, sambil putar arah.
Betapa merindingnya aku, aku mendaftar menjadi seorang santri. Aku akan dikekang, aku tidak bisa begiini, tak bisa begitu. Semalaman aku tak tidur nyenyak memikirkan test di keesokan hari. Apa yang harus ku persiapkan, baju, belajar tapi belajar apa. ngaji bisa iya tapi tidak dengan tajwid yang baik bahkan mahrojul hurufpun masih buruk. Bahasa inggris bahasa arab bisakah aku belajar dengan 1 malam saja, seperti legenda saja yang membangun candi dalam satu malam.
Tiba lah saatnya hari yang menegangkan itu, jantungku berdegup tak karuan. 3 test yang kujalani, tahap 1 tes baca tulis Quran aku melewatinya walaupun dengan nilai pas pasan. Tahap II tes bahsa inggris, meskipu bukan pengguna aktif setidaknya aku mampu memprkenalkan diri dengan baik dan mendapat nilai lumayan. Tahap III adalah tes tersulit dan aku tak mampu berkata apapun, “Coba perkenalkan diri kamu dengan menggunakan bahas arab” pinta ustad.
“ Ismii Mery Kusyeni, Kholas ustad”, tertunduk malu.
Begitulah test yang ku anggap menyeramkan, ternyata aku lulus. Tes tersebut ternyata untuk melihat kesungguhan dan kemauan kami dalam belajar. Alhamdulillah aku menjadi Mahasiwa yang nyantri.
Teman sekamar 3/9

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hijrah Part II Mahasiswa yang Nyantri"

Posting Komentar

Terpopuler

Rayakan Hari Anak Nasional Di Pulau Pasaran, Lampung

Saya Anak Indonesia, Saya Gembira Mendung tak berarti hujan, begitulah kira-kira suasana pagi itu sebelum keberangkatan aku menuju...