Hijrah part 1 Jilbab Saringan Tahu



Doc. Pribadi Khimar A'yyuna Moeslimah
Jilbab Saringan Tahu
Baju berlengan diatas siku, dengan rok biru sepinggul yang sengaja ditarik kebawah dengan panjang sebawah lutut. Rambut ku sengaja kuikat setengah dan ku juntaikan poni yang setengah bergelombang itu.
Pergaulan masa remaja yang bisa ku katakan keblinger karena kurangnya pondasi di dalam keluarga, membuatku lebih mudah menerima warna dari lingkungan. Tadinya aku begitu nakal dan bisa dikatakan sebagai perempuan yang lenjeh, di kantong ku hanya ada cermin dan sisir untuk merapikan poni yang kadang berantakan. aku bersama ke tiga teman ku menjadi kelompok yang sangat diidolakan pada masa itu, terang saja kami bisa dikatakan siswa yang cantik.
Seperti yang orang-orang lain lakukan aku juga belajar dengan sangat tekun, meskipun kami nakal tapi kami mmiliki prinsip harus tetap menjadi juara. Kedekatan kami berempat tentu hanya sesaat karena kami harus sama-sama pergi untuk melanjutkan Sekolah Menengah Akhir.
Okta harus kembali ke tangerang, Esti sekolah di Kampung sebelah sedang Yanti harus ke pusat kota dan aku menetap di kampung. Komunikasi kami terputus karena belum memiliki handphone sendiri tentu kedekatan kami termakan ruang dan waktu.

Sekolah baru, gaya baru
            Tahun ajaran baru dimulai, masa orientasi siswa aku lewati dengan susah payah. Aku tidak suka menjadi bahan tontonan yang di kerjai kakak kelas. Pada saat itu semua mata tertuju pada ku karena keterlambatan ku masuk sekolah, jelas hukuman menanti dong. Hukuman menyanyi di depan semua kakak kelas dan teman-teman, dengan suara yang pas-pasan saat itu aku mulai bernyanyi dan aku sadar mereka mulai tidak nyaman dengan suara ku itu.
            Akhirnya masa orientasi berakhir dengan dilepasnya segala atribut aneh itu dari badanku. Dan kami di bariskan untuk mencari kandidat pasukan pengibar bendera, tanpa lama-lama seorang senior memilih ku karena memang cuma aku yang lebih tinggi di banding siswi lain, pada saat itu sekitar 165 cm.
            Lingkungan baru ku memiliki beberapa perbedaan diantaranya siswanya lebih banyak mengenakan jilbab, sejak SMP aku jarang melihat atau bisa dibilang tidak ada siswa yang mengenakan jilbab jadi terasa aneh menurut ku.
            Suasana di sekolah pun berbeda aku yang dulu jadi siswi yang aktif masih beradaptasi dengan teman baru yang menurutku kurang asik, mereka tidak seperti teman-temanku yang dulu, mereka tidak keren. Begitulah pikiranku dulu.

Jilbab Karena Rambut Pendek
            Satu dua bulan aku sudah mulai terbiasa dengan mereka, aku juga menjadi cupu. Mode style pada saat itu siswa SMA keren bila mengenakan Rok abu-abu panjang dengan baju panjang dan rambut panjang terurai. Aku membayangkan sambil mengingat pasti aku jadi terkeren deh.
            Di bulan ketiga aku harus setiap hari berlatih ketangkasan baris-berbaris untuk mempersiapkan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65, sudah ku sangka aku menjadi bintangnya di pasukan ini. Aku mendapat pasukan 8, pasukan paling inti dalam pengibaran bendera dan aku pemegang komando pasukan. Dan bahagianya aku bisa menjadi pengibar inti.
            Latihan yang cukup keras selama sebulan, membuat kulit kuning langsatku berubah, hitam legam. Hei rambut hitam yang panjang itu harus kupotong sebahu. Sebenarnya aku ngin berjilbab agar rambutku tak di potong, tetapi berbeda saat dulu belum boleh mengengakan jilbab.
            Aku yang dulu percaya diri, sekarang menjadi minder dengan kulit hitam dan kusam, sejak itu aku memutuskan untuk berjilbab saja karna lebih buruk lagi kalau kulit hitamku harus bersanding dengan rambut boob, aku mulai dengan menggunakan jilbab instan.
            Karena aku lebih terlihat panjang lehernya jika menggunakan jilbab instan, aku mengubahnya dengan jilbab segi empat yang satu meteran dengan harga Rp10.000, ku beli dengan uang gajian pertamaku mengajar pramuka. Kalian tahu seperti apa jilbabnya seperti saringan tahu yang kakek ku gunakan menyetak tahu.
           Sejak saat itu aku menetapkan untuk selalu menggunakan jilbab, tetapi belum bisa dikatakan syar'i.
Doc. Pribadi Khimar A'yyuna Moeslimah

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Hijrah part 1 Jilbab Saringan Tahu"

Terpopuler

Rayakan Hari Anak Nasional Di Pulau Pasaran, Lampung

Saya Anak Indonesia, Saya Gembira Mendung tak berarti hujan, begitulah kira-kira suasana pagi itu sebelum keberangkatan aku menuju...